Adrian Clarke mengatakan Jose Mourinho mengikuti pola Chelsea 2004/05 yang dominan
Percaya atau tidak kita hampir meyelesaikan seperlima perjalanan di musim 2014/15. Waktu berlalu dengan cepat.
Dengan tidak adanya laga Barclays Premier League akhir pekan ini,
Adrian Clarke menganalisis awal musim Chelsea, dan mengapa tampak begitu
familiar.
Mourinho mencoba rumus taktik yang terpercaya
Jika Anda merasa Chelsea 2014 saat ini familiar, berarti Anda tidak
salah. Jose Mourinho telah menciptakan skuad musim ini dengan gaya yang
hampir sama dengan Chelsea ketika memenangkan gelar BPL satu dekade yang
lalu.
Beberapa keputusan yang diambilnya sangat serupa. Misalnya, kembali
ke musim panas tahun 2004 ia melepas dua pemain senior yang terlalu
banyak disukai para pendukung (Jimmy Floyd Hasselbaink dan Marcel
Desailly) untuk memberikan ruang bagi darah segar; ia menukarkan kiper
populer nya (Carlo Cudicini) untuk pemain muda yang lebih menjanjikan
(Petr Cech); dan setelah meminjamkan striker mahal untuk tambahan profit
(Hernan Crespo), ia mendatangkan penyerang asing kuat yang senang
mengintimidasi defender lawan (Didier Drogba).
Apakah semua itu ada sangkut pautnya dengan apa yang terjadi di London barat di musim panas ini?
Di dalam lapangan pendekatan taktis Mourinho juga menyerupai taktik
yang memenangi gelar dengan 12 poin di musim itu, mengakhiri musim itu
dengan hanya satu kekalahan.
Pola yang disukainya adalah empat bek di barisan pertahanan berisikan
tiga bek murni, sama seperti yang dilakukannya pada saat itu, dengan
bek kanan yang cenderung ikut menyerang, daripada pemain di sisi kiri.
Di lini tengah, Mourinho memilih untuk tidak merotasi pemainnya, dan
selalu memilih Nemanja Matic dan Cesc Fabregas jika fit; seperti yang ia
lakukan dengan pasangan yang tidak pernah absen di musim 2004/05,
Claude Makelele dan Frank Lampard.
Di posisi sayap, ia sekali lagi dilengkapi gelandang serang yang
dapat beralih posisi sayap dengan mudah. Serangannya dibangun di
sekeliling striker agresif haus gol yang berusia di paruh umur 20 (Diego
Costa), seperti Drogba saat itu, yang sangat berkesan di sepak bola
Inggris.
Apakah pendekatan taktis manajer Chelsea musim ini disengaja atau
tidak disengaja, kita tidak bisa memastikan, tapi perbandingannya sangat
jelas.
Peran ganda dan formasi berlian muncul kembali
Di saat yang lalu, kolaborasi pemain depan tidak berjalan dengan
baik. Dengan formasi 4-2-3-1 yang mendominasi taktik selama satu
periode, menghasilkan pertanyaan apakah istilah 'duet penyerang' telah
menjadi punah.
Untungnya, hal itu tidak terjadi. Faktanya permainan 'Duet' telah
kembali, tetapi hampir sebagian dari manajer top telah bereksperimen
dengan dua penyerang depan, atau menggunakan mereka secara teratur. Hal
ini mungkin terinspirasi oleh keberhasilan penyerang kembar Manchester
City dan Liverpool di musim 2013/14.
Sebagian besar kolaborasi itu juga terbukti sangat efektif. Leicester
City, West Ham United dan Hull City menikmati permainan itu berkat
keputusan berani untuk memunculkan tandem striker depan secara
bersamaan. Dalam penguasaan bola, mereka memiliki banyak alternatif
serangan, dan tanpa bola mereka dapat menekan lebih jauh.
| Duet Penyerang Top BPL | ||
|---|---|---|
| Duet Penyerang | Laga | Gol |
| Leonardo Ulloa dan David Nugent (LEI) | 6 | 6 |
| Diafra Sakho dan Enner Valencia (WHU) | 4 | 5 |
| Edin Dzeko dan Sergio Aguero (MCI) | 3 | 4 |
| Abel Hernandez dan Nikica Jelavic (HUL) | 4 | 4 |
| Radamel Falcao dan Robin van Persie (MUN) | 3 | 3 |
| Connor Wickham dan Steven Fletcher (SUN) | 4 | 2 |
| Gabriel Agbonlahor dan Andreas Weimann (AVL) | 1 | 2 |
Di lini tengah formasi berlian' merupakan bentuk taktis lain, yang saat ini banyak digunakan.
Brendan Rodgers menggunakan itu dalam kemenangan 3-0 Liverpool atas Tottenham Hotspur, yang juga akan diikuti tim lain.
Manchester United saat ini berpegang pada sistem 4-1-2-1-2, sementara
West Ham, Hull dan QPR semua juga sempat mencoba memakai sistem
tersebut. Sistem formasi ini dapat berfungsi dengan baik, apabila
pemain lini depan bergerak dengan cepat dan gelandang memiliki
kreatifitas tinggi. Berhati-hatilah karena dalam beberapa bulan ke
depan, semakin banyak klub yang akan bereksperimen dengan formasi
'berlian' ini.
Editor : Ahmad Abdau Rizki
Tidak ada komentar:
Posting Komentar